Memutus Siklus Tamak: Retakan Ekologis Mengancam Manusia

Bukittinggi (Humas) – Krisis lingkungan global yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar isu pemanasan global atau penurunan keanekaragaman hayati yang jamak diperbincangkan. Dampaknya sudah masuk ke fase krusial: ancaman eksistensial yang memutus hubungan mendalam antara manusia, kebudayaan, dan ruang hidup mereka. Dalam diskursus ekologi, fenomena ini dikenal sebagai ecological and social rupture (retakan ekologis dan sosial).

Sorotan tajam tersebut mengemuka dalam Pertemuan Tahunan  Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations* (NICMCR) yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rabu, 3 Juni 2026. Hadir sebagai panelis, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Abidin Bagir, membedah anatomi krisis tersebut di hadapan para peserta konsorsium internasional.

Menurut Zainal, modernitas yang berjalan beriringan dengan pola eksploitasi ugal-ugalan telah memicu apa yang disebut “keretakan metabolik”. Ini adalah sebuah kondisi ekstrem di mana siklus alami alam diputus secara paksa demi melayani kepentingan industri dan akumulasi keuntungan jangka pendek.

“Ketika alam diperlakukan sekadar sebagai komoditas dan gudang bahan baku, kita sedang menghancurkan fondasi kehidupan kita sendiri,” tukas Zainal retoris.

Ancaman Amnesia Budaya

Analisis Zainal tak berhenti pada kerusakan fisik bumi. Ia memaparkan bahwa retakan ekologis secara otomatis menjalar menjadi retakan sosial yang destruktif. Korban pertamanya adalah masyarakat lokal dan komunitas adat.

Bagi mereka, kehancuran lingkungan bukan sekadar kehilangan ruang hidup, melainkan hulu dari bencana non-fisik: amnesia budaya. Saat tanah dan hutan adat tempat mereka merawat tradisi lumat oleh eksploitasi, sirna pula pengetahuan lokal, bahasa, spiritualitas, serta tatanan sosial yang selama berabad-abad menjadi benteng keseimbangan bumi.

Dampak dari dualitas kerusakan ini nyata. Di hilir, terjadi ketimpangan eko-sosial yang akut, diiringi krisis kecemasan psikologis masyarakat yang menyaksikan ruang hidupnya porak-poranda secara masif.

Di forum NICMCR tersebut, Zainal menegaskan bahwa upaya pemulihan lingkungan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan kosmetik atau aksi hijau permukaan. Perlu ada rekonstruksi radikal terhadap cara pandang dunia dari antroposentrisme yang serakah dan menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak, menuju ekosentrisme sebagai kesadaran baru bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari jaring-jaring kehidupan bumi yang saling berkelindan.(*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor : Irwandi Nashir

Aksesibilitas