Narasumber Internasional Jadi Magnet Pertemuan Tahunan NICMCR 2026 di UIN Bukittinggi

Bukittinggi (Humas)– Kehadiran sejumlah narasumber internasional terkemuka menjadi daya tarik utama dalam Pertemuan Tahunan Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) 2026 yang digelar pada 3–4 Juni 2026 di Lantai II Aula Pascasarjana UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kegiatan ini dihadiri para pimpinan UIN Bukittinggi , pimpinan Fakultas, Dosen, Guru Besar UIN Bukittinggi, serta  peserta dari akademisi dan peneliti dari luar negeri yang memiliki perhatian terhadap isu dialog antar agama, pendidikan, dan penguatan masyarakat multikultural.
Forum tahunan yang mempertemukan para akademisi, peneliti, dan praktisi ini menghadirkan sejumlah narasumber internasional dengan reputasi akademik yang kuat, di antaranya Prof. Fathimah Ulfat, Profesor bidang Pendidikan Agama Islam dan Didaktik Mata Pelajaran; Alper E. Alasag, tokoh pendidikan Islam di Belanda sekaligus pendiri IDEIS (Institut voor Dialoog en Educatie over de Islam en Samenleving); serta Prof. Frans Wijsen, Professor Emeritus bidang Studi Agama Empiris dan Praktis dari Radboud University, Belanda.
Selain itu, hadir pula akademisi Indonesia yang memiliki kiprah internasional, Zainal Abidin Bagir, dosen senior Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dikenal luas melalui kontribusinya dalam studi agama, kerukunan antarumat beragama, filsafat agama, serta hubungan agama dan sains.

Dalam sesi diskusi, Prof. Fathimah Ulfat mengulas tantangan pendidikan agama Islam di tengah masyarakat plural dan pentingnya pendekatan pedagogis yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda masa kini. Sementara itu, Alper E. Alasag memaparkan pengalaman transformasi pendidikan Islam di Belanda melalui pendekatan dialogis dan interaktif yang diterapkan oleh IDEIS.

Dok. Foto Prof. Dr. Frans Wijser (sebelah kiri) dan Zainal Abidin Bagir (sebelah kanan).

Menurut Alper E. Alasag, pendidikan Islam modern harus mampu membangun kemampuan berpikir kritis, keterbukaan, dan identitas keislaman yang kuat tanpa terjebak pada eksklusivisme. Melalui berbagai inovasi seperti pengembangan Gim edukatif dan penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Belanda, IDEIS berupaya menciptakan generasi Muslim yang moderat, toleran, dan adaptif terhadap dinamika masyarakat Barat.
Di sisi lain, Zainal Abidin Bagir menyoroti pentingnya penguatan studi lintas agama sebagai fondasi bagi pembangunan kehidupan kebangsaan yang harmonis. Ia menegaskan bahwa dialog antaragama tidak hanya menjadi kebutuhan akademik, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga kohesi sosial di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Sementara Prof. Frans Wijsen membahas perkembangan studi agama kontemporer, pluralisme, serta peran perguruan tinggi dalam membangun kerja sama internasional untuk menjawab berbagai tantangan global, mulai dari isu lingkungan hingga dinamika hubungan antarumat beragama.
Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyampaikan bahwa kehadiran para narasumber internasional menunjukkan semakin kuatnya posisi UIN Bukittinggi dalam jejaring akademik global.
“NICMCR 2026 menjadi forum yang sangat penting karena menghadirkan pemikir-pemikir terkemuka dari berbagai negara yang memiliki pengalaman dan perspektif luas mengenai pendidikan, dialog antaragama, dan kehidupan masyarakat multikultural. Kehadiran narasumber internasional ini memberikan inspirasi sekaligus memperkaya wawasan akademik bagi dosen, mahasiswa, dan seluruh peserta,” ujar Prof. Silfia Hanani.
Menurut Prof. Silfia Hanani, kegiatan tersebut sejalan dengan visi UIN Bukittinggi untuk memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi melalui kolaborasi riset, pertukaran akademik, dan pengembangan kajian keislaman yang moderat serta berwawasan global.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Hubungan Internasional (International Office) UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, menegaskan bahwa NICMCR telah menjadi wadah strategis dalam memperkuat kemitraan akademik antara Indonesia dan Belanda.
“Pertemuan tahunan NICMCR tidak hanya menghadirkan narasumber internasional yang memiliki reputasi akademik kuat, tetapi juga membuka peluang kerja sama riset, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan program internasional yang lebih luas bagi UIN Bukittinggi,” ungkap Irwandi.
Melalui penyelenggaraan NICMCR 2026, UIN Bukittinggi kembali menegaskan perannya sebagai ruang perjumpaan akademik internasional yang mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran konstruktif dalam memperkuat toleransi, keberagaman, dan kerja sama lintas bangsa di era global. (NZ)

Aksesibilitas