Gandeng Akademisi Belanda, UIN Bukittinggi Bumikan Dialog Ekoteologi Lintas Iman di Forum NICMCR

Bukittinggi (Humas) – Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi resmi sukses menjadi ruang perjumpaan lintas negara dalam merajut gerakan penyelamatan lingkungan berbasis keagamaan.

Forum internasional tahunan Annual Meeting of Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) sukses terlaksana Rabu (3/6/2026) hingga Kamis (4/6/2026), dengan memfokuskan perhatian penuh pada integrasi teologi dan kelestarian ekosistem global.

Perhelatan akademik yang mempertemukan pakar, peneliti, dan akademisi lintas negara dari Belanda dan Indonesia ini mengusung misi strategis menjadikan dialog Muslim-Kristen sebagai instrumen resolusi nyata bagi krisis biosfer bumi. Isu ekologi tidak lagi diletakkan sebagai wacana teknis semata, melainkan panggilan iman yang mengikat secara moral.

Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan global yang disematkan kepada institusi yang dipimpinnya.

Berbicara langsung melalui sambungan internasional dari Kota Suci Madinah Al-Munawwarah, Silfia menegaskan bahwa kesadaran menjaga alam semesta adalah kelanjutan logis dari komitmen perdamaian kemanusiaan.

“Esensi piagam perdamaian tidak hanya mengatur keharmonisan antarmanusia, tetapi juga menuntut perdamaian yang tulus antara manusia dengan alam ciptaan Tuhan. UIN Bukittinggi bangga menjadi bagian dari kolaborasi global ini. Institusi keagamaan memikul tanggung jawab moral terbesar untuk berdiri di barisan depan dalam mengawal kelestarian bumi,” ujar Rektor.

Dinamika akademik pada hari pertama langsung bergulir tajam melalui serangkaian dekonstruksi paradigma teologis dan kultural.
Peneliti M. Rhaka Katresna mengawali sesi paralel lewat kajian mendalam bertajuk “Weaving the Will of the Land: An Art-Based Research Practice for Embodied Social Justice in Garut”.

Menggunakan analisis ekoteologi, Rhaka membedah bahwa tanah memiliki kesucian intrinsik dan ‘kehendak’ ekologis tersendiri. Pendekatan riset berbasis seni yang ditawarkannya bertujuan menumbuhkan empati fisik serta emosional kolektif demi melindungi ruang hidup dari ancaman eksploitasi kapitalistik.

Perspektif kosmologis Nusantara semakin diperkuat oleh paparan Whayu Widodo mengenai genealogi intelektual Muslim-Jawa bertajuk “The Wandering Student Searching for Knowledge (Santri Lělana): Knowledge Production and Transmission in Java and the Malay World”.

Whayu memaparkan bukti historis bahwa tradisi pengembaraan santri di Dunia Melayu bukan sekadar laku menghafal teks-teks doktrinal normatif.

Lebih dari itu, pengembaraan tersebut merupakan laku ekosofi agung—sebuah proses membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam (ayat kauniyah), sekaligus pembukti bahwa spiritualitas Nusantara selalu sejalan dengan geografi ekologinya.

Sebagai respons atas ketimpangan tata kelola iklim modern, Haryani Saptaningtyas menghadirkan potret empiris melalui risetnya yang berjudul “Knowledge Coproduction in Climate Change-Related Human (Im)Mobility”.

Haryani melayangkan kritik tajam terhadap bias sains modern yang kerap menafikan hak-hak masyarakat bawah dalam mitigasi bencana iklim.

Di hadapan forum internasional tersebut, ia menawarkan konsep knowledge coproduction sebagai jalan keadilan iklim yang inklusif, di mana otoritas sains modern harus duduk setara dan mendengarkan kearifan teologi lokal serta strategi adaptasi warga di tingkat tapak.

Rangkaian presentasi ilmiah pada hari pertama dilanjutkan hari kedua NICMCR di ranah Minang ini berhasil merumuskan sebuah manifesto ekologi yang kokoh. Pertemuan multidisiplin ini menegaskan bahwa merawat bumi adalah manifestasi konkret dari tauhid dan keimanan yang hidup di dalam kebudayaan.

Melalui perpaduan apik antara pendekatan seni, sejarah spiritualitas pesantren, dan keadilan sains iklim yang inklusif, UIN Bukittinggi sukses menggaungkan pesan keselamatan lingkungan ke panggung dunia. Dialog produktif Muslim-Kristen ini dipastikan terus berlanjut selama beberapa hari ke depan guna merumuskan draf aksi nyata (action plan) yang implementatif demi keberlangsungan masa depan bumi. (WA)

Aksesibilitas