UIN Bukittinggi dan USAS Sepakati Integrasi Keilmuan

Bukittinggi (Humas)— Sekularisasi yang memisahkan ilmu agama dari perkembangan sains dan teknologi dinilai kian nyata memicu krisis disorientasi moral di era modern. Sebaliknya, kemajuan teknologi tanpa jangkar spiritual dan nilai kemanusiaan berisiko menjadi destruktif bagi tatanan kehidupan umat.

Menjawab tantangan krusial tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dan Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia resmi menyepakati kerja sama strategis. Kemitraan ini berkomitmen memperkuat standardisasi integrasi keilmuan di kawasan Asia Tenggara.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tersebut dilakukan di sela-sela agenda Annual General Meeting Asian Islamic University Association (AIUA) yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. USAS hadir selaku salah satu institusi pendiri sekaligus sekretariat AIUA, sementara UIN Bukittinggi merupakan anggota aktif yang konsisten memperluas jejaring internasional demi kemaslahatan akademik.

Seremonial yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Naib Canselor USAS, Prof. Dato Dr Wan Sabri Bin Wan Yusof; Timbalan Canselor Urusan Akademik dan Riset, Prof. Dr. Shamsul Jamali bin Yeob; dan Sekretariat Eksekutif AIUA, Dr. Salina binti Khalid. Sementara dari pihak UIN Bukittinggi diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama, Dr. Edi Rosman, serta Kepala Pusat Hubungan Internasional, Dr.Irwandi.

Kedua institusi bersepakat bahwa urgensi mengawinkan nilai-nilai Islam dengan sains, teknologi, dan ilmu kemanusiaan sudah berada pada tahap mendesak. Hal ini demi mencetak generasi muslim yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi juga kokoh secara akidah.

Kesamaan falsafah ini tidak lagi sekadar menjadi menara gading teoretis, melainkan langsung diturunkan ke dalam berbagai program akademik konkret. Ragam agenda yang disiapkan meliputi kolaborasi riset lintas disiplin, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga pengembangan kurikulum inklusif demi melahirkan lulusan berdaya saing global yang memiliki kedalaman spiritual.

Secara terpisah, Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyambut positif kemitraan strategis serumpun ini. Menurut beliau, kolaborasi ini merupakan ikhtiar nyata untuk menjawab tantangan global melalui model pendidikan yang menyatukan kecanggihan teknologi dengan keluhuran akhlak.

“Kesamaan visi dan falsafah keilmuan yang dianut UIN Bukittinggi dan USAS diharapkan mampu mengakselerasi internasionalisasi kampus, sekaligus melahirkan ekosistem akademik yang membawa kemaslahatan bagi semesta, ‘ujar Prof Silfia. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor : Dr. Irwandi

Aksesibilitas