Dok. Foto. Tim peneliti Dr. Veni Roza (UIN Bukittinggi) bersama dengan Dekan Fakulti Pendidikan UIS Dr. Sapie

Bukittinggi (Humas) — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) seperti ChatGPT dan Claude semakin memasuki ruang akademik perguruan tinggi. Teknologi ini memberikan kemudahan bagi mahasiswa dan dosen dalam mencari referensi, mengolah informasi serta membantu penyusunan berbagai karya tulis.

Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi, terutama dalam menjaga integritas akademik. Kemudahan menggunakan AI harus diikuti dengan kemampuan untuk memanfaatkannya secara tepat, kritis dan tetap menjunjung tinggi etika keilmuan.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam riset lintas negara bertajuk Navigating AI Usage in Southeast Asian English Education for Islamic Scholars yang dipimpin Dr. Veni Roza. Penelitian tersebut dilakukan melalui studi lapangan pada sejumlah perguruan tinggi Islam di Malaysia pada 4 hingga 8 Agustus 2026.

Riset ini dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana mahasiswa dan dosen menghadapi perkembangan penggunaan GenAI dalam proses pembelajaran, khususnya pada mata kuliah Academic Writing dan pendidikan Bahasa Inggris.

Dr. Veni Roza (Peneliti /Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi) mengatakan, perkembangan penggunaan AI di kalangan mahasiswa berlangsung sangat cepat. Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu segera menyiapkan pola pendampingan yang mampu menjawab perkembangan teknologi tersebut.

“Mahasiswa bergerak jauh lebih lincah dan adaptif dalam memanfaatkan AI. Sementara para dosen mulai merasa kewalahan karena belum adanya sistem pendampingan dan pelatihan resmi adaptasi kecerdasan buatan,” ujar Dr. Veni Roza.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak berarti bahwa AI harus dijauhkan dari dunia pendidikan. Sebaliknya, perguruan tinggi perlu memahami perkembangan teknologi tersebut dan menyiapkan pedoman yang dapat mengarahkan mahasiswa dan dosen dalam penggunaannya.

Pengumpulan data penelitian diawali dengan kunjungan ke Universiti Islam Selangor (UIS) di Bangi, Selangor. Tim peneliti diterima Dekan Fakulti Pendidikan UIS, Dr. Sapie, yang menyatakan komitmen pihaknya dalam mendukung kebutuhan data penelitian.

Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti juga melakukan wawancara dengan sejumlah pengajar bidang Bahasa Inggris dan Komunikasi. Dari hasil wawancara ditemukan adanya kekhawatiran para dosen terhadap penggunaan GenAI yang semakin masif, khususnya pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang mempersiapkan skripsi.

Pada kondisi tersebut, dosen menghadapi tantangan untuk membedakan antara penggunaan AI sebagai alat bantu dengan penggunaan AI yang justru menggantikan proses berpikir mahasiswa.

Sebagai bagian dari respons awal penelitian, tim memperkenalkan penggunaan AI checking tool kepada para dosen UIS. Perangkat tersebut diharapkan dapat membantu dosen memahami dan mendeteksi penggunaan AI dalam karya tulis mahasiswa.

Hasil dari penelitian tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi sebuah handbook atau buku panduan pemanfaatan AI bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Setelah dari UIS, tim penelitian melanjutkan pengumpulan data ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) di Nilai, Negeri Sembilan. Di kampus tersebut, penelitian dilakukan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah akademisi Bahasa Inggris.

Diskusi tersebut semakin memperlihatkan bahwa persoalan GenAI tidak hanya berkaitan dengan plagiarisme atau kecurangan akademik. Lebih dari itu, kehadiran AI telah membawa perubahan terhadap cara mahasiswa belajar, menulis dan membangun pemikiran akademiknya.

Karena itu, menurut Dr. Veni Roza, dosen perlu memiliki kemampuan yang cukup dalam memahami perkembangan AI sehingga dapat memberikan pendampingan kepada mahasiswa.

“Yang kita perlukan bukan sekadar alat untuk memeriksa apakah sebuah tulisan dibuat dengan AI, tetapi juga bagaimana mahasiswa diberikan pemahaman untuk menggunakan AI secara kritis, analitis dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menjelaskan, riset lintas negara tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran sekaligus solusi bagi perguruan tinggi Islam dalam menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat.

Sementara itu, Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menyambut baik riset lintas negara yang mengangkat persoalan pemanfaatan AI di perguruan tinggi Islam tersebut.

Menurut Prof. Silfia Hanani, perkembangan AI merupakan bagian dari perubahan zaman yang tidak dapat dihindari oleh dunia pendidikan. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan teknologi, namun tetap memberikan batasan berdasarkan etika dan nilai-nilai akademik.

“AI harus kita manfaatkan untuk membantu proses pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Tetapi penggunaannya harus tetap etis dan bertanggung jawab. Jangan sampai AI justru menghilangkan proses berpikir mahasiswa,” ujar Prof. Silfia Hanani.

Ia mengatakan, perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab untuk memastikan kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan integritas mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami tanggung jawab atas setiap karya yang dihasilkan.

“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting tetap manusia yang menggunakannya. Mahasiswa harus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik dan tanggung jawab terhadap karya ilmiahnya,” kata Prof. Silfia Hanani.

Prof. Silfia menilai, kerja sama dan riset lintas negara seperti yang dilakukan Dr. Veni Roza menjadi penting dalam membangun pemahaman bersama di kalangan perguruan tinggi Islam, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Melalui riset tersebut, diharapkan lahir handbook yang tidak hanya memberikan panduan teknis penggunaan AI, tetapi juga menjadi pedoman etis bagi mahasiswa dan dosen dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.

Dengan demikian, perkembangan AI tidak menjadi ancaman bagi tradisi keilmuan perguruan tinggi Islam. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kemajuan pendidikan, selama tetap ditempatkan dalam koridor etika, integritas akademik dan tanggung jawab ilmiah.

Aksesibilitas