BUKITTINGGI (Humas) -Ruang kerja Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi di lantai dua Gedung Rektorat itu mendadak hangat, awal Agustus lalu. Prof. Silfia Hanani, sang rektor, menyambut kehadiran Eko Sumardi, jurnalis senior dari media SumbarKita. Ditemani Kepala International Office, Dr. Irwandi, dan staf HUMAS UIN Bukittinggi,Hadi,pertemuan itu sekilas tampak seperti reuni dua sahabat lama—mereka memang karib semenjak sama-sama berkiprah di panggung pers daerah.
Namun, obrolan tak berhenti di ruang nostalgia. Percakapan bergulir serius menyentuh urat nadi dunia akademik, yaitu meredupnya budaya literasi. Kegelisahan itu beralasan. Di tengah tsunami informasi dan gempuran konten visual berdurasi singkat, kedalaman literasi terutama di kalangan mahasiswa tengah mengalami senjakala.
Aktivitas membaca acap kali sekadar meluncur di permukaan layar gawai, sementara kegiatan menulis kerap direduksi menjadi rutinitas mekanis untuk sekadar menggugurkan tugas akademik. Nalar kritis yang seharusnya menjadi nyawa kaum intelektual perlahan tumpul, tergerus budaya instan dan mentalitas jalan pintas.
Eko menyentil pentingnya sivitas akademika melawan arus tersebut dengan kembali mengasah daya kritis lewat tulisan. Kampus, menurut dia, adalah lumbung pemikiran, panggung diskursus, dan pusat riset yang gagasan-gagasannya terlampau sering mengendap di ruang kelas atau rak perpustakaan tanpa pernah menjangkau publik secara nyata.
“Semua potensi dan prestasi kampus baru terasa dampaknya jika dituangkan dalam tulisan dan dipublikasikan secara konsisten,” ujar Eko. Di matanya, perguruan tinggi pantang terjebak menjadi menara gading yang kedap terhadap persoalan di luarnya. Kampus memiliki sumber daya intelektual yang lebih dari cukup untuk tampil sebagai lokomotif agen perubahan literasi. Ia mendorong dosen dan mahasiswa tak sekadar mengejar publikasi jurnal ilmiah yang kaku, melainkan luwes menelurkan artikel ilmiah populer dan opini yang mencerahkan di media massa.

Dok. Pertemuan Rektor UIN Bukittinggi dengan Jurnalis Senior Media SumbarKita di Ruang Rektor
Sinyal itu disambut terbuka oleh Prof. Silfia. Jejak rekamnya di dunia jurnalistik membuat sang rektor paham betul bahwa tradisi menulis adalah tiang penyangga Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tak bisa ditawar. Ia sepakat, kampus memikul mandat moral untuk mengedukasi dan memecah kebuntuan nalar publik.
Diskusi pagi itu pun melebar menembus tantangan era digital—bagaimana media siber bergerak begitu cepat dan menuntut institusi pendidikan beradaptasi tanpa kehilangan bobot kedalaman pemikiran. Di akhir pertemuan, sebuah komitmen terajut bahwa UIN Bukittinggi bersiap menghidupkan kembali nyala literasi di lorong-lorong kampusnya, mengubah teks-teks akademik menjadi amunisi perubahan peradaban.(Humas UIN Bukittinggi/YH)
*Kontributor : Irwandi Nashir
