Mahasiswa UKM Malaysia Jalani Magang Kepariwisataan Syariah di UIN Bukittinggi

BUKITTINGGI (Humas) – Sebanyak enam mahasiswa dari Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) mulai menjalani program pemagangan internasional di Program Studi Pariwisata Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Kegiatan yang berlangsung sejak 27 Juli hingga 21 September 2026 ini merupakan bagian dari skema pemagangan timbal balik (reciprocal internship) untuk memperkuat jejaring akademik dan industri di kawasan Asia Tenggara.

Selama hampir dua bulan di Bukittinggi, para mahasiswa UKM tidak hanya belajar di ruang akademis kampus, tetapi juga diterjunkan langsung ke lini instansi pemerintah dan mitra strategis industri. Salah satunya, para mahasiswa ditempatkan di Dinas Kepariwisataan dan Pemuda Olahraga (Disparpora) Kota Bukittinggi untuk mempelajari secara langsung regulasi, kebijakan tata kelola destinasi, serta pengembangan pariwisata halal di tingkat daerah.

Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyambut hangat kedatangan para mahasiswa dari negeri jiran tersebut. Menurutnya, penempatan lintas sektor ini menjadi wujud nyata internasionalisasi kampus sekaligus ikhtiar mempererat ukhuwah akademis dan kebudayaan antarnegara.

“Melalui pemagangan lintas negara ini, para mahasiswa dapat menguji teori di lapangan sekaligus mengasah kepekaan interkultural. Ini menjadi fondasi penting untuk membentuk cara pandang global serta memperkuat diplomasi kebudayaan berbasis nilai-nilai Islam,” ujar Prof Silfia di Bukittinggi, Senin (27/7/2026).

Sinergi Pariwisata Syariah dan Kebijakan Publik

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi, Dr. Aidil Alfin, menjelaskan bahwa pelibatan instansi pemerintah seperti Disparpora Kota Bukittinggi serta jaringan mitra bisnis lokal dirancang untuk memberikan pengalaman holistik. Fokus utama pemagangan berpusat pada integrasi antara konsep pariwisata syariah, kebijakan publik, dan keunggulan kearifan lokal Minangkabau.

“Melalui penempatan di Disparpora Kota Bukittinggi dan jaringan mitra industri kami, mahasiswa UKM tidak sekadar mempelajari teori halal tourism, tetapi menyaksikan langsung bagaimana regulasi pemerintah dan nilai-nilai kearifan lokal dipadukan menjadi penggerak ekonomi yang bernilai tinggi,” kata Aidil.

Sinergi ini menggabungkan keahlian metodologis-analitis FSSK UKM dengan praktik lapangan pengelolaan pariwisata berbasis syariah yang dikembangkan UIN Bukittinggi bersama pemerintah daerah.

Mempererat Ukhuwah Rumpun Melayu

Dari pihak Malaysia, Dosen Pengarah FSSK UKM, Dr. Azimah Abdul Manaf, menilai program magang di Bukittinggi ini memberikan dimensi pembelajaran yang sangat berharga, terutama dengan keterlibatan instansi pemerintah daerah setempat. Selain memperluas wawasan regulasi kawasan, kegiatan ini menjadi sarana membentuk jaringan kerja global sejak dini.

“Program ini mendorong mahasiswa kami keluar dari zona nyaman untuk menyerap praktik terbaik  pengelolaan kepariwisataan ramah muslim di Indonesia. Pertukaran ini tak hanya memperkaya riset sosiokultural, tetapi juga mempererat tali ukhuwah rumpun Melayu dalam mengembangkan ekonomi kreatif kawasan,” tutur Azimah.

Sebelumnya, sebagai bagian dari skema resiprokal ini, UIN Bukittinggi telah lebih dulu mengirimkan enam mahasiswa FEBI untuk menjalani pemagangan di UKM Malaysia pada 18 Juni hingga 13 Juli 2026 lalu. Kedua perguruan tinggi optimistis kolaborasi ini dapat terus berkelanjutan sebagai model kemitraan strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor : Irwandi Nashir

Aksesibilitas