Menjemput Berkah, Memaknai Al-Quran di Kampus Universitas Islam

Bukittinggi (Humas) – Di bawah langit Bukittinggi yang teduh, pada Selasa, 28 April 2026, suasana auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terasa berbeda. Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, hadir membawa pesan mendalam bagi civitas akademika. Baginya, Al-Quran bukan sekadar deretan ayat yang dibaca, melainkan napas kehidupan yang harus menyatu dalam sanubari untuk mengurai krisis keberkahan yang kini membayangi umat.

 Melampaui Teks, Menyentuh Kalamullah

Dalam arahannya, Prof. Nasaruddin menekankan pembedaan mendasar dalam cara kita memandang Al-Quran. Selama ini, banyak orang berhenti pada level Kitabullah—dimana Al-Quran dipahami sebatas huruf, teks, dan struktur bahasa yang bisa dipelajari siapa saja.

Namun, ada dimensi yang jauh lebih dalam Kalamullah.

“Al-Quran sebagai Kalamullah tidak bisa diselami dengan akal semata,” tegas Prof. Nasaruddin. Syarat mutlak untuk membukanya adalah ketakwaan, serta kebersihan lahir dan batin. Tanpa “kunci” berupa kesucian hati, pesan-pesan Ilahi akan tetap tertutup meski teksnya terlihat jelas di depan mata.

Meluruskan Makna, Memperluas Kapasitas

Menariknya, Menteri Agama menyoroti kekeliruan umum dalam menafsirkan ayat-ayat populer yang sering disalahartikan sebagai sekadar permohonan pragmatis. Beliau memberikan contoh reflektif:

* Tentang *Rabbi Zidni ‘Ilman: Sering dianggap sekadar meminta tambahan ilmu, padahal esensinya adalah memohon kepada Allah agar kapasitas diri kita diperluas untuk mampu menampung ilmu yang luas dan universal. Inilah filosofi yang harus dibawa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) saat bertransformasi menjadi Universitas Islam.

* Tentang *La-in Syakartum La-azidannakum:* Bukan sekadar janji Allah menambah nikmat materi, melainkan Allah akan menambah kapasitas hamba-Nya agar lebih mampu mensyukuri setiap nikmat yang diterima.

Epistemologi Berbasis Berkah

Di UIN Bukittinggi, Prof. Nasaruddin menekankan bahwa epistemologi keilmuan memiliki jalur berbeda. Ilmu bukan sekadar akumulasi data, melainkan jalan menuju berkah. Mengutip Ibnu Ajibah tentang cara membaca Bismillah, beliau mengingatkan agar sebelum menyebut nama-Nya, kita harus menghadirkan sosok “yang mempunyai nama” tersebut dalam hati.

Inilah pembeda utama: setiap langkah pencarian ilmu harus dimulai dengan niat yang ikhlas dan penyebutan nama Allah. Bagi para pegawai, beliau memberikan pesan tegas untuk menjauhi harta haram, sebab keberkahan tidak akan pernah hinggap pada kehidupan yang tercemar oleh hal-hal yang tidak diridai-Nya.

Sebagai penutup, beliau menegaskan sebuah tolak ukur sederhana namun mendasar bagi Kementerian Agama: keberhasilan bukanlah sekadar angka statistik, melainkan seberapa dekat umat dengan agamanya. Di UIN Bukittinggi, pesan ini menjadi pengingat bahwa kampus bukan sekadar pabrik gelar, melainkan ladang persemaian insan-insan yang mengerti makna berkah dalam setiap tarikan napas keilmuannya. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor: Dr. Irwandi Nashir

Aksesibilitas