
Bukittinggi (Humas)_UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar diskusi publik bertema Membangun Ketahanan Ekonomi Umat di Negeri Rawan Bencana sekaligus meluncurkan Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat (PKPEU), Jumat (23/1/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung Kaharuddin Yunus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi.
Diskusi publik ini dihadiri pimpinan UIN Bukittinggi, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan daerah yang diundang lainnya seperti : Bagian Perekonomian Setda Kota Bukittinggi, BAZNAS Kota Bukittinggi, BWI Kota Bukittinggi, Majelis Ulama Indonesia kota Bukittinggi, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) kota Bukittinggi, BKMT Sumatera Barat, Penyuluh Agama Kota Bukittinggi, Penyuluh Agama Kab.Agam, BSI Cabang Bukittinggi, Bank Muamalah kota Bukittinggi, Bukopin Syariah cabang kota Bukittinggi, Bank Nagari syariah cabang kota Bukittinggi, BPRS Carana kiat Andalas, dan BPRS Ampek Angkek canduang. Forum ini menjadi ruang dialog untuk merespons kerentanan ekonomi masyarakat di wilayah rawan bencana, khususnya di Sumatera.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menegaskan peluncuran PKPEU merupakan upaya kampus menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, pusat kajian ini diharapkan menjadi basis riset dan program pemberdayaan ekonomi umat yang berkelanjutan.
Dekan FEBI UIN Bukittinggi, Dr. Aidil Alfin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran PKPEU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pusat kajian ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga motor penggerak aksi sosial-ekonomi yang berdampak langsung ke Masyarakat.
Ketua PKPEU UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Asyari, menjelaskan PKPEU dibentuk sebagai wadah kajian strategis yang dapat disinergikan dengan berbagai lembaga eksternal. Ia berharap PKPEU menjadi mitra pemerintah, lembaga keuangan syariah, dan organisasi sosial dalam penguatan ekonomi umat.
Diskusi publik tersebut menghadirkan Prof. Dr. Hesi Eka Puteri (salah seorang Guru Besar UIN Bukittinggi) sebagai pemantik diskusi. Dalam paparannya, ia menyampaikan gambaran umum krisis ekologi sebagai salah satu faktor utama yang memperbesar kerentanan bencana di wilayah Sumatera. Menurutnya, persoalan bencana tidak dapat dilepaskan dari relasi manusia dengan lingkungan yang semakin timpang.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Hesi menguraikan sejumlah isu krusial, mulai dari kontribusi manusia terhadap terjadinya bencana, persepsi masyarakat dan solidaritas sosial, ketimpangan sosial, hingga pentingnya pendekatan mitigasi bencana berbasis keadilan sosiologis. Ia juga menyoroti perlunya model aksi rekonstruksi pascabencana yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.
Diskusi Publik tersebut berlangsung dinamis atas pemaparan narasumber dalam mengupas tema serta peserta diskusi yang sangat antusias dalam menanggapi paparan dari narasumber. UIN Bukittinggi berharap forum ini menjadi langkah awal penguatan peran perguruan tinggi dalam membangun ketahanan ekonomi umat di wilayah rawan bencana, khususnya daerah rawan bencana di Sumatera.
(TimHumas/NZ)
