S2 AFI UIN Bukittinggi Dorong Rekonstruksi Ilmu Kalam Menuju Teologi Transformatif Ekologis

Bukittinggi (Humas) –   UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar kuliah umum bertajuk “Rekonstruksi Ilmu Kalam: Dari Dialektika Apologetik Menuju Teologi Transformatif Ekologis”.

Agenda akademik ini menghadirkan Guru Besar Ilmu Kalam Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof. Eka Putra Wirman, sebagai narasumber utama di Aula Gedung Muhammad Hatta Lantai 3, Jumat (22/5/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Dekan I FUAD, Zulfan Taufik, Ketua Program Studi S2 AFI, serta jajaran dosen dan mahasiswa pascasarjana.

 Dalam paparannya, Prof. Eka Putra Wirman menyoroti perlunya pergeseran paradigma dalam studi Ilmu Kalam. Menurutnya, teologi Islam saat ini tidak boleh lagi sekadar menjadi ruang perdebatan apologetis yang kaku untuk membela mazhab.

Studi teologi harus bergerak maju menjadi instrumen transformatif yang mampu menjawab persoalan riil, termasuk krisis lingkungan dan dinamika sosial.

Ia membedah prinsip dasar Tauhid, Asmaul Husna, dan Sifat Allah yang harus diyakini apa adanya (isbat). Dalam analisis komparatifnya, Prof. Eka menggali pemikiran Mu’tazilah yang dinilai memiliki kemiripan dengan paham Deisme di Barat, yakni sebuah pandangan yang menganggap Tuhan hanya menciptakan alam semesta, lalu membiarkannya berjalan sendiri tanpa keterlibatan aktif dalam pengelolaan alam.

“Tugas utama pengkaji teologi sekarang adalah menjawab persoalan zaman. Di tengah kompleksitas problem psikologis dan sosial modern, peran konsultan spiritual berbasis teologi justru sangat dibutuhkan masyarakat,” ujar Prof. Eka Putra Wirman.

 Lebih lanjut, ia juga mengingatkan tantangan eksternal dunia pemikiran yang saat ini berada di pusaran era Post-Truth. Ini merupakan kondisi ketika batasan antara kebenaran dan kebohongan menjadi kabur, di mana sebuah narasi sering kali dianggap sebagai kebenaran hanya karena dipublikasikan secara masif dan berulang-ulang.

Kondisi tersebut menuntut para pemikir, terutama mahasiswa pascasarjana berbasis filsafat, untuk menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam mencari solusi kebenaran. Menanggapi diskusi mengenai teori kebebasan, Prof. Eka menegaskan bahwa Islam sejak awal perkembangannya telah menginternalisasi konsep pembebasan manusia.

Dok : Kuliah Umum Program Studi Magister (S2) Akidah dan Filsafat Islam (AFI), Jumat (22/05/2026)

Sebagai contoh konkret, hukum Islam mengatur penebusan pelanggaran ibadah puasa melalui opsi memerdekakan budak. Dengan demikian, istilah teologi pembebasan kontemporer pada hakikatnya merupakan pengulangan atau artikulasi ulang dari nilai-nilai emansipatoris yang sudah inheren di dalam Islam.

 Di akhir sesi, Zulfan Taufik, menegaskan kembali urgensi pengkajian filsafat dan teologi di masa kini. Ia mengakui bahwa secara statistik, prodi yang berbasis pada pemikiran murni seperti AFI kerap kali memiliki peminat yang relatif sedikit. Namun, dari segi fungsional, eksistensi dan kontribusi lulusannya justru menjadi kebutuhan vital di masyarakat.

“Lulusan filsafat dan teologi adalah benteng teoretis yang dibutuhkan masyarakat luas untuk menjaga arah pemikiran bangsa,” tegas Zulfan.

Pihak fakultas memproyeksikan agar momentum akademik ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Ke depan, gagasan dari kuliah umum ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk ruang diskusi ilmiah dan kajian rutin berkala, guna memastikan kemanfaatan ilmu yang didapat mampu merespons realitas sosial secara konkret. (*Humas UIN Bukittinggi/WA)

*Kontributor : Penmardianto

Aksesibilitas