Prof. Silfia Hanani : PTKIN Harus Semakin Adaptif dan Kompetitif

Dok.Foto. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Suyitno

Bukittinggi (Humas) — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si., menilai evaluasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi Islam negeri untuk terus melakukan pembenahan dan meningkatkan daya saing.

Hal tersebut disampaikan Prof. Silfia Hanani saat menghadiri kegiatan Evaluasi Pelaksanaan PMB Tahun 2026 PTKIN yang diselenggarakan Panitia Nasional PMB PTKIN di Hotel Mercure Jakarta Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Rabu (7/10/2026).

Dok.Foto metro.univ.ac.id Sekjend Kemenag RI Prof. Kamaruddin Amar dan Rektor UIN Bukittinggi Prof.Dr.Silfia Hanani , Rektor UIN IB Prof.Dr. Martin, dan Rektor PTKIN Lainnya

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof. Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Suyitno, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Sahiron serta sejumlah pimpinan PTKIN di Indonesia.

Menurut Prof. Silfia Hanani, evaluasi PMB tidak hanya berkaitan dengan proses penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga menjadi bagian penting dalam melihat sejauh mana PTKIN mampu memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Evaluasi PMB ini menjadi momentum bagi kita untuk melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki. PMB bukan hanya persoalan jumlah mahasiswa yang diterima, tetapi bagaimana kita mendapatkan mahasiswa yang berkualitas dan memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik,” ujar Prof. Silfia Hanani.

Prof. Silfia Hanani mengatakan, perubahan kebijakan pendidikan tinggi dan perkembangan kebutuhan masyarakat menuntut PTKIN untuk semakin adaptif. Perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya mempertahankan pola yang sudah berjalan, tetapi harus berani melakukan inovasi dalam berbagai bidang.

“PTKIN harus semakin adaptif dan kompetitif. Kita harus mampu membaca perkembangan zaman, kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Karena itu, penguatan sumber daya manusia, program studi, riset, inovasi dan kerja sama menjadi sangat penting,” katanya.

Dalam forum tersebut, Dirjen Pendidikan Islam Prof. Suyitno sebagaimana dikutip metro..univ.ac.id  menyampaikan apresiasi terhadap berbagai capaian PTKIN dalam beberapa tahun terakhir. PTKIN dinilai terus mengalami peningkatan dari sisi reputasi, daya saing dan kepercayaan masyarakat.

Prof. Suyitno juga menyoroti peluang pembukaan program studi umum di lingkungan PTKIN yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Peluang tersebut harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia agar PTKIN mampu berkembang dan bersaing di tingkat nasional maupun global.

Selain itu, penguatan riset menjadi perhatian penting. PTKIN didorong memperluas penelitian pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) yang responsif terhadap persoalan masyarakat serta mampu mendukung program strategis nasional.

Menurut Prof. Silfia Hanani, arah kebijakan tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi PTKIN untuk terus meningkatkan kualitas kelembagaan.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang. PTKIN harus mampu menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam juga memiliki kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, riset dan inovasi, tanpa meninggalkan karakter keislamannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, peningkatan kualitas lulusan juga harus menjadi perhatian utama. Perguruan tinggi harus memastikan lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kompetensi, karakter dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan dunia kerja.

“Yang paling penting adalah bagaimana lulusan kita mampu memberikan kontribusi di tengah masyarakat. Mereka harus memiliki kompetensi dan karakter yang kuat sehingga mampu bersaing dan sekaligus memberikan manfaat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Prof. Sahiron sebagaimana dikutip metro.univ.ac.id  menekankan pentingnya strategi baru dalam penerimaan mahasiswa melalui inovasi promosi dan peningkatan layanan pendidikan. PTKIN juga perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai kebijakan pendidikan tinggi baru, termasuk kemungkinan penerapan skema pendidikan tinggi tanpa biaya yang sedang menjadi perhatian pemerintah.

Prof. Silfia Hanani  menyambut positif arah kebijakan tersebut. Menurutnya, apabila kebijakan pendidikan tinggi semakin inklusif, PTKIN harus memastikan kesiapan kelembagaan, sumber daya manusia dan sistem layanan agar mampu memberikan pendidikan yang semakin luas dan berkualitas kepada masyarakat.

“Semangat kita adalah memberikan akses pendidikan yang semakin luas kepada masyarakat. Tetapi akses tersebut harus berjalan bersama dengan peningkatan mutu. Jadi, kualitas dan pemerataan pendidikan harus kita perjuangkan secara bersamaan,” tegasnya.

Prof. Silfia Hanani menegaskan, UIN Bukittinggi akan terus melakukan berbagai langkah penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas akademik, pengembangan riset dan inovasi serta memperluas jejaring kerja sama.

“Kita ingin UIN Bukittinggi terus berkembang menjadi kampus yang unggul, berdaya saing dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Setiap evaluasi harus kita jadikan sebagai bahan untuk melakukan perbaikan dan lompatan ke depan,” pungkasnya.

Evaluasi PMB PTKIN Tahun 2026 tersebut diharapkan menjadi pijakan bersama bagi seluruh PTKIN untuk memperkuat sistem penerimaan mahasiswa baru sekaligus menyiapkan perguruan tinggi Islam negeri menghadapi tantangan dan peluang pendidikan tinggi di masa mendatang.

Aksesibilitas