Prodi S2 Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Bukittinggi menggelar Studium Generale

Bukittinggi (Humas) — Program Studi S2 Tadris Bahasa Inggris (TBI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi sukses menyelenggarakan kegiatan studium generale pada Senin (20/4/2026) pukul 09.00–11.15 WIB. Kegiatan ini mengangkat tema “From Curriculum to Classroom: Practical Approaches to Teaching and Assessing English Effectively.”

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FTIK Dr. Junaidi,  yang dalam sambutannya menekankan pentingnya inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris agar selaras dengan kebutuhan global dan perkembangan dunia pendidikan saat ini. Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan Studium Generale yang digelar oleh Program Studi S2 Tadris Bahasa Inggris.

Dok. Foto Dekan FTIK UIN Bukittinggi Dr. Junaidi, M.Pd memberikan sambutan dan arahan dalam acara Studium General S2 Prodi Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Bukittinggi

“kegiatan studium generale ini sebagai wadah strategis dalam memperluas wawasan akademik mahasiswa, khususnya dalam menghadapi dinamika global di bidang pendidikan bahasa Inggris. Penguasaan bahasa Inggris saat ini tidak hanya menjadi kebutuhan akademik, tetapi juga menjadi kunci dalam membangun daya saing di tingkat internasional” ujar Dr. Junaidi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Prodi S2 TBI, Dr. Absharini Kardena, dimana ia menekankan  urgensi penguatan kompetensi pedagogik mahasiswa dan dosen melalui forum ilmiah seperti studium generale.

Kegiatan ini menghadirkan keynote speaker internasional, Assoc. Prof. Dr. Zulida binti Abdul Kadir dari Centre for Language Studies, Universiti Tun Hussein Onn Malaysia.  Acara tersebut  dipandu oleh moderator, Ibu Muflihatuz Zakiyah, M.Pd., dan dihadiri oleh dosen bahasa Inggris serta mahasiswa S2 TBI dan S1 Pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam pemaparannya, Dr. Zulida menekankan pentingnya keterkaitan antara kurikulum dan praktik pembelajaran di kelas. Ia menggaris bawahi bahwa pengajaran bahasa Inggris yang efektif tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada pendekatan praktis yang mampu meningkatkan keterlibatan dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Salah satu fokus utama materinya Dr. Zulida adalah konsep dan implementasi Problem-Based Learning (PBL) dalam pembelajaran bahasa Inggris. Ia menjelaskan bahwa PBL merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses belajar melalui penyelesaian masalah nyata. Dalam praktiknya, mahasiswa diajak untuk menganalisis situasi, mengidentifikasi masalah, merumuskan ide, serta menyusun rencana aksi.

Sebagai akademisi dengan pengalaman hampir dua dekade, Dr. Zulida memiliki kepakaran dalam bidang problem-based learning, komunikasi manusia, motivasi, serta pengajaran bahasa. Ia juga telah menerbitkan lebih dari 50 karya ilmiah dan aktif sebagai pembicara di berbagai forum nasional maupun internasional. Pengalamannya dalam pengembangan kurikulum, penelitian kelas, serta supervisi mahasiswa menjadi nilai tambah dalam memperkaya wawasan peserta.

Dalam paparannya ia menyimpulkan PBL  adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menekankan pada pemecahan masalah nyata sebagai pemicu utama proses belajar. Melalui Problem-Based Learning in Classroom, siswa didorong untuk berpikir kritis, bekerja sama, serta mengembangkan keterampilan analitis dan komunikasi dalam mencari solusi yang relevan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses eksplorasi, bukan sekadar pemberi informasi. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman mendalam, kemandirian belajar, serta kesiapan siswa menghadapi situasi kehidupan nyata karena pembelajaran dikaitkan langsung dengan konteks praktis.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dan dosen dapat mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan aplikatif, khususnya dalam mengintegrasikan PBL ke dalam pengajaran bahasa Inggris. Studium generale ini sekaligus menjadi wadah penguatan jejaring akademik internasional bagi Prodi S2 Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Bukittinggi.

 

(TimHumas/NZ)

 

 

 

 

 

 

Aksesibilitas