LP2M UIN Bukittinggi Perkuat Edukasi PPKS, Ruang Digital Jadi Perhatian Bersama

Dok. Foto. Acara Talkshow PPKS LP2M UIN Bukittinggi 

Bukittinggi (Humas) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terus memperkuat perannya dalam meningkatkan pemahaman sivitas akademika terhadap Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Talkshow Virtual PPKS  dengan moderator Talkshow  Dr. Januar, Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat  LP2M yang  membahas potensi kekerasan seksual di ruang digital, dengan menghadirkan dua narasumber, Lailatul Rahmi, M.Hum., dan Desra Elena, S.KM., Selasa (20/10/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan LP2M UIN Bukittinggi ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa perkembangan teknologi digital tidak hanya memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga dapat membuka peluang terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual apabila disalahgunakan.

Dok. Foto. Narasumber Talkshow PPKS LP2M Lailatul Rahmi, M.Hum., Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Imam Bonjol Padang,

Salah seorang narasumber, Lailatul Rahmi, M.Hum., Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Imam Bonjol Padang, menjelaskan bahwa ruang digital yang seharusnya menunjang kepentingan penggunanya tidak selalu bersifat netral. Dalam kondisi tertentu, ruang digital justru dapat memperbesar persoalan yang terjadi di dunia nyata.

“Tidak selamanya ruang digital itu netral. Terkadang ruang digital pun bisa terseret pada pemanfaatan untuk kepentingan tertentu hingga terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual. Atau bisa dikatakan, ruang digital bukanlah cermin netral, ia hanya memperbesar dunia nyata,” ungkap Lailatul Rahmi.

Ia menjelaskan, kekerasan seksual yang terjadi secara online dapat menimbulkan dampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Mahasiswa yang mengalami kekerasan digital, misalnya, dapat kehilangan rasa percaya diri, menjadi murung, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan mengalami tekanan psikologis yang berat.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serius agar sivitas akademika semakin memahami berbagai bentuk kekerasan seksual, dampaknya terhadap korban, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanganinya.

Di samping itu, Lailatul Rahmi juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membagikan informasi dan konten melalui media sosial, seperti Instagram, Facebook, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya.

Menurutnya, setiap informasi, foto, video, maupun data pribadi yang dibagikan di media sosial berpotensi disimpan, disebarluaskan kembali, atau dimanfaatkan oleh pihak lain di luar kendali pemilik akun. Kondisi ini dapat membuka peluang penyalahgunaan informasi untuk berbagai kepentingan negatif, termasuk tindakan yang mengarah pada pelecehan dan kekerasan seksual.

Karena itu, pengguna media sosial perlu lebih bijak sebelum membagikan konten di ruang digital. Perlindungan data pribadi, pembatasan informasi yang bersifat sensitif, serta pemahaman terhadap risiko penggunaan media sosial menjadi langkah penting untuk menghindari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ketua LP2M UIN Bukittinggi, Dr. Muhiddinur Kamal, turut mengikuti kegiatan tersebut secara virtual bersama para peserta Talkshow virtual lainnya yeng terdiri dari Ketua UPT / Lembaga, dan dosen .

LP2M menggelar kegiatan Talkshow tersebut bertujuan sebagai upaya memperkuat edukasi dan meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap persoalan kekerasan seksual yang terus berkembang, termasuk di ruang digital. Melalui kegiatan edukatif tersebut, LP2M mendorong agar pencegahan dan penanganan kekerasan seksual menjadi perhatian serta tanggung jawab bersama.

Peran LP2M tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan talkshow, tetapi juga sebagai penggerak kegiatan edukasi yang menghubungkan pengetahuan, kesadaran sosial, dan upaya pencegahan di lingkungan perguruan tinggi. Dengan demikian, sivitas akademika diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik dalam mengenali risiko kekerasan seksual, menjaga etika berinteraksi, serta memberikan dukungan kepada korban.

Dok. Foto. Moderator Talkshow PPKS  LP2,M Dr. Januar

Moderator Talkshow PPKS  Dr. Januar dalam kesempatan tersebut, menyampaikan bahwa edukasi mengenai PPKS perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh unsur sivitas akademika .

“Pencegahan kekerasan seksual membutuhkan komitmen dan kepedulian bersama. Sivitas akademika UIN Bukittinnggi perlu memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual, berani melaporkan apabila menemukan atau mengalami kejadian tersebut, serta memberikan dukungan kepada korban. Ruang digital harus digunakan secara bijak, beretika, dan bertanggung jawab,” ungkap  Dr. Januar.

Melalui kegiatan ini, LP2M UIN Bukittinggi terus mendorong penguatan edukasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual agar sivitas akademika semakin memahami pentingnya menjaga keamanan diri, menghormati martabat orang lain, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk pelecehan serta kekerasan seksual, baik secara langsung maupun melalui media digital. (nz)

Aksesibilitas