BUKITTINGGI (Humas) — Paradigma pendidikan tinggi di Tanah Air tengah mengalami pergeseran fundamental. Pendekatan tradisional yang berpusat pada penguasaan materi (content-based) kini mulai ditinggalkan, beralih menuju pendekatan berbasis capaian atau Outcome-Based Education (OBE). Transformasi ini menuntut kesiapan para dosen untuk merombak total rancangan pembelajaran, mulai dari perumusan target hingga metode evaluasi di ruang-ruang kelas.
Tantangan sekaligus strategi adaptasi kurikulum tersebut mengemuka dalam Workshop Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi bertajuk “Konsep RPS OBE, Implementasi, dan Evaluasi“. Perhelatan akademik yang berlangsung pada 1–2 Juli 2026 ini menghadirkan Guru Besar UIN Ar-Raniry Aceh, Prof. Dr. Teuku Zulfikar, sebagai narasumber utama.
Dekan FTIK UIN Bukittinggi, Dr. Junaidi, menegaskan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan sebuah keniscayaan dalam menyikapi dinamika zaman yang bergerak eksponensial. Menurutnya, pendidikan tinggi Islam tidak boleh terjebak dalam pola-pola lama yang usang jika ingin melahirkan generasi bermutu yang relevan dengan kebutuhan industri serta kemaslahatan masyarakat modern.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FTIK, Dr. Widya Syafitri, menambahkan bahwa migrasi kurikulum ke arah OBE ini diharapkan mampu mendongkrak mutu akademis prodi secara signifikan. Ikhtiar ini sekaligus memastikan proses pembelajaran berjalan lebih interaktif, terukur, dan berbasis pada kompetensi riil mahasiswa.
“OBE bukan sekadar dokumen administratif di atas kertas, melainkan komitmen nyata untuk memastikan setiap mahasiswa memiliki kompetensi riil yang dapat diukur setelah menyelesaikan perkuliahan,” ujar Teuku Zulfikar dalam paparannya.
Namun, transisi menuju OBE kerap menyisakan persoalan teknis di tingkat pengajar. Prof. Teuku menggarisbawahi enam hambatan utama yang sering dihadapi dosen saat menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE.
Persoalan tersebut bermula dari ketidakjelasan dalam merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang terukur, hingga kesulitan memetakan serta menyelaraskan (mapping and aligning) seluruh komponen materi. Selain itu, pemilihan metode pengajaran sering kali belum berpusat pada mahasiswa, ditunjang dengan kendala penyusunan instrumen penilaian (assessment) yang valid, manajemen waktu kerja (workload) yang kurang realistis, serta keterbatasan akses dalam memperbarui sumber daya bahan ajar.

Mendorong Otonomi Mahasiswa
Untuk mengatasi hambatan tersebut, kurikulum berbasis OBE mensyaratkan perubahan radikal pada strategi instruksional. Dosen tidak lagi memosisikan diri sebagai satu-satunya pusat informasi, melainkan sebagai fasilitator yang mendorong kemandirian belajar mahasiswa secara penuh.
Teuku Zulfikar menekankan pentingnya menumbuhkan kemandirian tersebut melalui enam pilar taktis:
* Menyediakan pilihan yang bermakna (provide meaningful choice) guna memberi ruang mahasiswa mengambil keputusan.
* Mendorong regulasi diri (encourage self-regulation) agar mereka mampu merencanakan target belajarnya sendiri.
* Memacu pemecahan masalah mandiri (promote independent problem solving).
* Memanfaatkan metode pembelajaran aktif melalui peer-teaching dan fleksibilitas kelas.
* Membangun lingkungan yang suportif demi mengatrol rasa percaya diri dan resiliensi akademik.
* Menumbuhkan rasa memiliki (promote ownership) melalui rutinitas terstruktur agar mahasiswa bertanggung jawab penuh atas hasil belajar mereka.
Salah satu pengejawantahan konkret dari otonomi tersebut adalah dengan menggeser siklus pembelajaran konvensional menuju model Problem-Based Learning (PBL). Berdasarkan analisis model pembelajaran, terlihat perbedaan kontras antara gaya tradisional dan PBL. Pada model tradisional, mahasiswa sekadar diposisikan pasif—diberi tahu informasi, menghafalnya, lalu diberikan tugas untuk mengilustrasikan penerapan dari apa yang dihafal.
Sebaliknya, siklus PBL membalik logika tersebut dengan langsung menghadapkan mahasiswa pada masalah nyata (problem assigned). Dari masalah itulah mahasiswa dipicu untuk mengidentifikasi apa yang perlu mereka ketahui, lalu secara mandiri dan kolaboratif mempelajari serta menerapkan konsep-konsep baru melalui siklus presentasi, investigasi, analisis bersama, hingga refleksi dan asesmen akhir.
Kehadiran Prof. Teuku Zulfikar dalam rangkaian agenda akademik di UIN Bukittinggi ini juga memperkuat jalinan ukhuwah dan kolaborasi yang telah lama terbangun. Selain menjadi narasumber, pakar metodologi pengajaran bahasa ini diketahui telah lama mendedikasikan kepakarannya sebagai salah satu reviewer ahli untuk Journal of Modality: Applied Linguistics Journal, sebuah jurnal ilmiah bidang linguistik terapan yang diterbitkan oleh UIN Bukittinggi.
Rekam jejak kemitraan yang panjang dalam dewan penyuntingan ini diharapkan tidak hanya mengokohkan implementasi kurikulum OBE di tingkat program studi, melainkan juga secara berkelanjutan terus mengawal dan mendongkrak kualitas publikasi ilmiah agar tetap kompetitif serta diakui di kancah global.(*Humas UIN Bukittinggi/YH)
*Kontributor : Dr. Irwandi
