Ikhtiar Kemanusiaan UIN Bukittinggi di Pelosok Aceh Tamiang

Bukittinggi (Humas) — Derit sling baja jembatan gantung yang bergoyang di ketinggian menjadi saksi bisu perjuangan warga Desa Pengidam, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Di bawahnya, aliran sungai yang pernah mengamuk kini tampak tenang, namun sisa-sisalumpur yang membalut pemukiman seolah berbisik bahwa duka akibat banjir bandang itu belum benar-benar pulih.

Bagi Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, perjalanan ini bukanlah sekadar perjalanan dinas biasa. Ini adalah sebuah ziarah ukhuwah, sebuah ikhtiar untuk menjumpai saudara seiman yang sedang diuji oleh ketetapan Allah Ta’ala.

Dipimpin oleh Dr. H. Muhiddinur Kamal, M.Pd., tim sengaja menembus lokasi-lokasi yang sempat terisolasi akibat jembatan yang ambruk.Demi menyentuh hati para penyintas di pelosok, tim harus bertaruh nyali menaiki perahu “getek” yang bergoyang di atas arus sungai. “Jatuh air mata melihat saudara-saudara kita di sini. Mereka masih bertahan di dalam tenda-tenda yang berselimut lumpur,” ungkap Muhiddinur dengan suara bergetar karena haru.

Dok. Ketua Tim LP2M UIN Bukittinggi bersama Penyintas Bencana Alam Aceh Tamiang

Pemandangan memilukan itu begitu kontras dengan suasana di pusat kota. Di dekat perkantoran bupati, Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) mulai berdiri. Namun, di pedalaman seperti Kampung Durian, Kecamatan Rantau, janji tentang tempat berteduh yang layak seolah hanyut terbawa arus. Huntap tak pasti, Huntara tak jelas; yang tersisa hanyalah kepasrahan di balik terpal plastik dan doa yang terus dilangitkan dari tengah kubangan lumpur.

Membasuh Luka dengan Spiritualitas

Kehadiran tim dari Kota Jam Gadang ini, sepanjang 12 hingga 19 Maret 2026, membawa misi ganda yang luhur. Tak hanya bantuan materiil, mereka membawa “penawar” bagi jiwa yang lara melalui kegiatan Penguatan Agama dan Mental Spiritual. Di bawah atap tenda yang lembap, lantunan doa dan zikir menggema puji-pujian kepada Sang Khalik, mencoba membasuh trauma yang mengendap jauh di dalam sanubari para penyintas.

Selain dukungan psikologis, tim LP2M UIN Bukittinggi menyerahkan amanah bantuan tunai sebesar Rp 203 juta. Di tengah kesulitan yang menghimpit, bantuan ini menjadi oase bagi mereka yang kehilangan harta benda dalam sekejap mata. Fokus tim sangat jelas, yaitu memuliakan mereka yang terlupakan di pedalaman.”Pengalaman luar biasa ini mengingatkan kita bahwa saudara kita di pelosok dengan akses terbatas harus menjadi prioritas. Inilah esensi kepedulian yang sesungguhnya dalam Islam,” tambah Muhiddinur.

Misi mulia ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si. Ia menegaskan bahwa kehadiran insan kampus di tengah masyarakat yang berduka adalah wujud nyata dari pengabdian yang bernilai ibadah di sisi-Nya.”Apa yang dilakukan tim LP2M di Aceh Tamiang adalah pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas Islam yang kita junjung tinggi.

UIN Bukittinggi berkomitmen untuk hadir bukan hanya dengan teori akademis, melainkan dengan aksi nyata yang menyentuh hati mereka yang teruji bencana,” ujar Prof. Silfia Hanani dengan penuh empati.

Saat tim bersiap kembali ke Padang pada pukul 03.30 pagi yang buta, bayangan jembatan gantung dan deru mesin perahu ketek masih melekat kuat di ingatan. Perjalanan fisik mungkin berakhir, namun misi untuk menyuarakan nasib penyintas Tamiang baru saja dimulai. Di sana, di antara tenda dan aliran sungai, kemanusiaan sedang diuji oleh waktu, sementara doa-doa terus dipanjatkan agar mentari harapan segera terbit menyinari ufuk Tamiang. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor : Irwandi

Aksesibilitas