BUKITTINGGI(Humas) — Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi terus memantapkan langkahnya di panggung internasional. Sebagai upaya memperkokoh dakwah akademik yang inklusif, UIN Bukittinggi resmi menjalin kemitraan strategis dengan bergabung dalam Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR).
Langkah ini menjadi manifestasi nyata komitmen kampus dalam mempromosikan wajah Islam yang sejuk, dialogis, dan damai di level global.
Kemitraan ini diinisiasi secara intensif oleh Kantor Pusat Hubungan Internasional (International Office) UIN Bukittinggi bersama sekretariat NICMCR di Belanda.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, menegaskan bahwa bergabungnya institusi yang ia pimpin ke dalam konsorsium ini merupakan ikhtiar konkret menjawab tantangan polarisasi agama yang kian mengkhawatirkan di kancah dunia. Ia menekankan, perguruan tinggi Islam memikul amanah untuk menjadi jembatan kesepahaman antarumat manusia.
“Agama kerap dimanipulasi untuk kepentingan politik yang memecah belah. Melalui NICMCR, UIN Bukittinggi ingin menawarkan narasi Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ujar Prof. Silfia usai menandatangani Deklarasi Komitmen Keikutsertaan dalam NICMCR, Selasa (10/2/2026).

Menurut Prof. Silfia, pesan perdamaian tidak mengenal batas geografis. “Kami ingin menunjukkan bahwa dari Bukittinggi, kita bisa berkontribusi bagi perdamaian dunia melalui riset dan dialog yang jujur antara Muslim dan Kristen,” imbuhnya.
Mengikis Polarisasi
NICMCR merupakan jejaring lintas negara yang telah berdiri sejak 2010. Konsorsium ini mempertemukan cendekiawan, tokoh agama, dan praktisi dari Indonesia serta Belanda untuk membedah isu-isu krusial, mulai dari pendidikan, kesetaraan gender, hingga keadilan ekologi dalam perspektif agama.
Koordinator NICMCR Belanda, Yus Sa’diyah-Broersma, menyambut hangat bergabungnya UIN Bukittinggi. Ia menilai, kedalaman nilai lokal Minangkabau yang dipadukan dengan intelektualitas kampus akan menjadi modal berharga bagi misi konsorsium.
“Kerja sama ini bertujuan menghasilkan pengetahuan yang berorientasi pada praktik dialogis. Di tengah arus populisme di kedua negara, kemitraan ini mendesak untuk menjaga keseimbangan hubungan antara komunitas agama dan negara,” ungkap Yus Sa’diyah.
Agenda Internasional
Kepala Pusat International Office UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, mengungkapkan bahwa sebagai langkah awal, kampus siap menjadi tuan rumah perhelatan akbar pada 3-4 Juni 2026 mendatang. UIN Bukittinggi akan menyelenggarakan Konferensi Internasional kolaboratif bersama NICMCR.
Forum tersebut diproyeksikan menjadi ruang perjumpaan pemikiran untuk membedah persoalan kemanusiaan melalui integrasi iman dan ilmu pengetahuan. “Agenda ini sekaligus memperkokoh posisi UIN Bukittinggi sebagai center of excellence dalam kajian moderasi beragama di kancah internasional,” pungkasnya. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)
*Kontributor : Irwandi
