Bukittinggi (Humas) – Rentetan bencana ekologis yang mengepung tanah Sumatera—mulai dari banjir bandang hingga gundulnya hutan di sepanjang Bukit Barisan—kini tidak lagi dipandang sebagai fenomena alam semata.
UIN Bukittinggi mengambil langkah progresif dengan membedah krisis ini melalui lensa Ekoteologi, sebuah diskursus yang menghubungkan kelestarian lingkungan dengan nilai-nilai ketuhanan.
Dalam acara Focus Group Discussion bertajuk “Faith, Ecology, and Social Change” yang digelar di Bukittinggi, Rabu (31/12/2025), Prof. Anne M. Gade, pakar Studi Islam dan Etika Lingkungan dari University of Wisconsin-Madison, AS, menegaskan bahwa kerusakan bumi adalah cerminan dari krisis nalar manusia. Ia menawarkan ekoteologi sebagai penawar terhadap paham antroposentrisme yang kerap memperlakukan alam hanya sebagai komoditas demi keuntungan sesaat.
“Krisis ekologi di Sumatera tidak cukup diselesaikan hanya dengan angka-angka sains di atas kertas. Ada dimensi transendental yang harus dipulihkan,” tegas Prof. Anne di hadapan peserta diskusi.
Menyitir Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 165, Anne menekankan bahwa mandat manusia sebagai khalifah atau pengelola bumi bukanlah “cek kosong” untuk mengeksploitasi alam tanpa batas.
Kegelisahannya kian tajam saat mengutip Surat An-Nur ayat 41 tentang harmonisasi kosmis; ia menggambarkan bahwa seluruh penghuni alam sejatinya senantiasa bertasbih.
Dalam perspektif ini, penggundulan hutan bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan tindakan destruktif terhadap “ibadah” alam semesta.
Sebagai solusi konkret, Prof. Anna M. Gade mendorong aktivasi instrumen keagamaan, seperti wakaf, untuk konservasi hutan lindung dan sumber mata air. Melalui model ini, kesalehan ekologis bertransformasi menjadi amal jariyah yang manfaatnya dirasakan abadi oleh publik.
Diskusi yang dimoderatori oleh Direktur Pascasarjana UIN Bukittinggi, Prof. Nunu Burhanuddin, dengan penerjemah Dr. Irwandi Nashir ini, membuahkan simpulan penting: sistem yang berkelanjutan adalah sistem yang memastikan pola hidup generasi hari ini tidak “mencuri” hak hidup generasi mendatang.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyambut hangat pemikiran tersebut. Ia menilai gagasan ekoteologi sangat selaras dengan filosofi masyarakat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Prof. Anne. Pemikiran beliau menyadarkan kita bahwa menjaga lingkungan adalah panggilan iman yang nyata,” ujar Prof. Silfia.
Prof.Silfia menegaskan komitmen UIN Bukittinggi untuk menjadikan kesalehan ekologis sebagai identitas akademik. “Menjaga bumi bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari sujud kita di atas tanah yang hijau,” pungkasnya.
Kontributor : Dr. Irwandi Nashir
(TimHumas/NZ)
