DWP UIN Bukittinggi Gelar Sosialisasi dan Diskusi Ekoteologi, Dukung Asta Protas Kemenag 2025–2029

Bukittinggi (Humas) — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar Sosialisasi dan Diskusi Ekoteologi sebagai bagian dari implementasi Asta Protas (Delapan Program Prioritas) Kementerian Agama Periode 2025–2029, Jumat (23/01/2026), di Gedung Khairuddin Yunus Lantai 3, pukul 13.00–16.00 WIB.

Kegiatan ini mengusung tema “Membangun Kesadaran Ekoteologi dalam Keluarga: Menjaga Bumi, Menjaga Iman”, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran spiritual dan tanggung jawab ekologis dalam kehidupan keluarga sebagai unit terkecil pembentuk karakter dan nilai.

Sosialisasi dan diskusi dihadiri oleh seluruh anggota DWP UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, sebagai bentuk komitmen kolektif dalam mendukung program prioritas Kementerian Agama, khususnya dalam penguatan moderasi beragama, kepedulian terhadap lingkungan, serta pembangunan berkelanjutan berbasis nilai keimanan.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua DWP UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Devi Wahyuni, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari pengamalan iman dan tanggung jawab moral umat beragama.

“Merawat bumi adalah bagian dari ibadah. Kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari keluarga, karena di sanalah nilai iman dan tanggung jawab ditanamkan sejak dini,” ujar Devi Wahyuni.

Kegiatan dipandu oleh Moderator Linda Yarni, dengan Fajriyani Arsya sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Fajriyani menekankan pentingnya membangun perspektif ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui peran keluarga dalam membentuk generasi yang peduli terhadap lingkungan.

Dok : Materi Ekoteologi oleh Fajriyani Arsya, Jumat (23/01/2026)

Diskusi diwarnai dengan refleksi keagamaan, berbagi pengalaman, serta praktik sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, seperti pengelolaan sampah berkelanjutan, penghematan energi, dan pembiasaan gaya hidup ramah lingkungan sebagai wujud konkret dari nilai iman.

Menutup kegiatan, Fajriyani Arsya menegaskan bahwa ekoteologi bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi kesadaran hidup yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Terlebih kondisi alam yang rawan bencana seperti yang terjadi di 3 Provinsi Indonesia. Penerapan ekoteologi menjadi relevan dengan kesadaran mempertahankan lingkungan hidup.

“Menjaga bumi berarti menjaga amanah Allah. Ketika keluarga menanamkan cinta terhadap alam, sesungguhnya mereka sedang menanamkan iman yang hidup, yaitu iman yang tidak hanya diyakini, tetapi juga diamalkan dalam keseharian,” tutup Fajriyani Arsya.

Melalui sosialisasi dan diskusi ini, DWP Kemenag UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi berharap kesadaran ekoteologi dapat terus tumbuh dalam keluarga dan komunitas, sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dan penguatan nilai keagamaan. (*Humas UIN Bukittinggi/WA)

Aksesibilitas