
Bukittinggi (Humas) — Persoalan akhlak dan budi pekerti peserta didik menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan pendidikan agama Islam. Pendidikan agama tidak cukup hanya memberikan pemahaman keagamaan secara teoritis, tetapi juga perlu menghubungkannya dengan kehidupan nyata, lingkungan sosial dan budaya tempat peserta didik berada.
Hal tersebut menjadi perhatian Nuryanti Siregar dalam penelitian disertasinya yang dipaparkan pada Sidang Ujian Terbuka atau Promosi Doktor Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi di Aula Cinema Gedung Sukarno M. Noor, Selasa (11/08/2026).
Dalam penelitian berjudul “Pengembangan Perangkat Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah Menengah Islam Terpadu Kota Padang Sidempuan”, Nuryanti mengembangkan gagasan kurikulum PAI yang mengintegrasikan nilai-nilai agama, nilai kebangsaan dan kearifan lokal.
Sidang tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri para undangan, keluarga serta kolega peserta ujian. Bertindak sebagai Ketua Sidang Prof. Dr. Hj. Silfia Hanani, M.Si. Tim penguji terdiri dari Dr. Junaidi, M.Pd, Prof. Dr. Wedra Aprison, M.Ag, Prof. Dr. Syafwan Rozi, M.Ag, Dr. Pendi Hasibuan, M.Ag, Dr. Arifmiboy, M.Pd, Prof. Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd, Dr. Supratman, M.Kom, serta penguji eksternal Prof. Dr. H. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag.

Dalam pemaparannya, Nuryanti menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan pembelajaran PAI yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Nilai-nilai agama tidak hanya disampaikan sebagai materi pembelajaran, tetapi perlu dihubungkan dengan nilai kebangsaan dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
“Pengembangan kurikulum yang diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal dalam desain kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI), sehingga pembelajaran itu tidak terkesan membosankan tetapi lebih kontekstual, lebih dekat dengan kehidupan peserta didik,” ungkap Nuryanti Siregar.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar peserta didik dapat memahami bahwa nilai-nilai agama memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan budaya mereka. Dengan demikian, pendidikan agama diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengetahui dan memahami, tetapi juga mampu membentuk sikap dan perilaku.
Dalam konteks tersebut, guru PAI memiliki peran yang sangat penting. Guru tidak hanya menjadi penyampai materi pembelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai agama dan budi pekerti.
“Guru-guru PAI harapan kami supaya bisa mengembannya dalam konteks pembelajaran dan menjadi teladan nilai bagi peserta didik. Kemudian selanjutnya diharapkan tingkat praktikalitas dan efektivitasnya bisa dilaksanakan lebih luas lagi,” ujarnya.
Nuryanti juga memaparkan fakta empiris yang ditemukan dalam penelitian mengenai kondisi peserta didik di Kota Padang Sidempuan. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan, masih ditemukan berbagai persoalan yang berkaitan dengan perilaku dan moral remaja, termasuk di lingkungan sekolah menengah Islam terpadu.
“Data empirisnya, terdapat kesenjangan. Kita lihat degradasi moral yang terjadi di Kota Padang Sidempuan. Data awal yang saya tulis di disertasi, di situ terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di kalangan remaja, termasuk juga anak-anak SMA IT Kota Padang Sidempuan tersebut,” jelasnya.
Kondisi tersebut, menurut Nuryanti Siregar, menunjukkan bahwa pemahaman terhadap nilai agama belum selalu berbanding lurus dengan penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik dapat memahami materi dan nilai agama, namun masih membutuhkan penguatan agar nilai tersebut dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Karena itu, kurikulum PAI perlu dikembangkan secara lebih kontekstual dengan memperhatikan lingkungan sosial dan budaya peserta didik. Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat dapat menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran untuk memperkuat pemahaman nilai agama sekaligus pembentukan karakter.
“Berangkat dari persoalan nyata, yaitu pembelajaran PAI di sekolah belum secara sistematis mengintegrasikan kearifan lokal sekolah menengah Islam terpadu di Kota Sidempuan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, budaya lokal di Kota Padang Sidempuan memiliki nilai-nilai karakter kearifan lokal yang sangat relevan dengan PAI,” paparnya.
Menurutnya, keberadaan sekolah menengah Islam terpadu sebagai salah satu pilihan pendidikan masyarakat juga membutuhkan penguatan pembelajaran agama yang mampu menjawab perkembangan dan persoalan peserta didik. Pendidikan agama diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi dalam membangun akhlak dan budi pekerti generasi muda.
Pengembangan perangkat kurikulum yang dilakukan Nuryanti Siregar pada akhirnya diarahkan agar pembelajaran PAI mampu mempertemukan tiga unsur penting, yaitu nilai-nilai agama, nilai kebangsaan dan kearifan lokal. Ketiganya menjadi landasan untuk membangun pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama Islam diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mengetahui ajaran agama, tetapi juga memiliki kesadaran untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membangun akhlak, budi pekerti dan karakter peserta didik.
Sebelum Sidang Ujian Terbuka berakhir, para tim penguji memberikan tanggapan dan komentar terhadap paparan hasil penelitian disertasi Nuryanti Siregar. Proses tersebut menjadi bagian penting dari tradisi akademik dalam menguji kedalaman, relevansi dan kontribusi hasil penelitian yang telah dilakukan.
Promosi Doktor Nuryanti Siregar sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan Islam terus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Kurikulum PAI yang berbasis kearifan lokal diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperkuat pendidikan karakter dan membangun generasi yang memiliki pengetahuan agama, akhlak serta kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budayanya. (nz)
