
Bukittinggi (Humas) _ Humas UIN Bukittinggi gelar Workshop Kehumasan dengan tema “Public Relation: Strategy Bukan Sekedar Penyampai Informasi” dengan menghadirkan Narasumber Aidina Fitra. Workshop diikuti oleh personil Tim Humas UIN Bukittinggi, pengelola website Fakultas se-lingkup UIN Bukittinggi dan mahasiswa UKK AL-ITQON UIN Bukittinggi. Workshop ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kehumasan dalam menghadapi tantangan komunikasi publik di era digital.

Workshop Kehumasan dibuka Rektor UIN Bukittinggi Prof Silfia Hanani. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa humas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membangun citra dan branding positif institusi UIN Bukittinggi. Sehingga Humas bagian terpenting dari upaya membangun pencitraan institusi UIN Bukittinggi.
“Packing itu di humas, humas yang mem-packingnya. Kalau bagus packingnya, walau buruk di dalamnya orang akan lihat juga. Sebagai humas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama humas itu tidak boleh mengatakan tidak bisa, harus bisa. Kedua, malas membuat berita atau menunda membuat berita. Dalam konteks ini dua hal itu masih berlaku. Orang humas itu harus bisa dan tidak boleh mengatakan tidak bisa. Orang humas adalah bergerak cepat. Karena bila orang humas tidak bergerak cepat maka ia akan terlempar,” ujar Prof Silfia Hanani.
Dalam pemaparannya, Aidina Fitra menekankan bahwa peran public relation saat ini tidak hanya sebatas menyampaikan informasi, tetapi juga menyusun strategi komunikasi yang mampu membangun persepsi dan kepercayaan publik terhadap institusi.
Selanjutnya Aidina Fitra menyampaikan juga tentang perbedaan paradigma dulu dengan sekarang yang terkait dengan media dan pengelolaan persepsi publik.
“Dulu siapa yang menguasai media, menguasai informasi. Sekarang siapa yang mengelola persepsi, mengelola kepercayaan publik,” pungkas Aidina Fitra
Ia juga menjelaskan bahwa humas modern dituntut mampu bergerak cepat, adaptif, serta memiliki kemampuan mengelola narasi positif institusi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, strategi komunikasi yang tepat akan menjadi kekuatan penting dalam memperkuat reputasi dan eksistensi lembaga pendidikan di mata masyarakat.
Melalui Workshop Kehumasan ini, Tim Humas UIN Bukittinggi berharap seluruh peserta dapat meningkatkan kompetensi dalam pengelolaan media, penulisan berita, serta strategi komunikasi publik yang profesional guna mendukung penguatan branding positif UIN Bukittinggi di tingkat lokal maupun nasional.
Workshop Kehumasan dibuka Rektor UIN Bukittinggi Prof Silfia Hanani. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan bahwa humas memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membangun citra dan branding positif institusi UIN Bukittinggi. Sehingga Humas bagian terpenting dari upaya membangun pencitraan institusi UIN Bukittinggi.
“Packing itu di humas, humas yang mem-packingnya. Kalau bagus packingnya, walau buruk di dalamnya orang akan lihat juga. Sebagai humas ada beberapa hal yang harus diperhatikan, pertama humas itu tidak boleh mengatakan tidak bisa, harus bisa. Kedua, malas membuat berita atau menunda membuat berita. Dalam konteks ini dua hal itu masih berlaku. Orang humas itu harus bisa dan tidak boleh mengatakan tidak bisa. Orang humas adalah bergerak cepat. Karena bila orang humas tidak bergerak cepat maka ia akan terlempar,” ujar Prof Silfia Hanani.
Dalam pemaparannya, Aidina Fitra menekankan bahwa peran public relation saat ini tidak hanya sebatas menyampaikan informasi, tetapi juga menyusun strategi komunikasi yang mampu membangun persepsi dan kepercayaan publik terhadap institusi.
“defenisi humas pada hari ini sudah berbeda dengan defenisi public relation. Jadi kalau kita ambil dari istilahnya saja humas kan merupakan terjemahan dari public relation, artinya hubungan publik atau hubungan Masyarakat. Namun defenisinya sekarang ini beranjak jauh. Karena kebiasaan di Indonesia humas lebih ke tujuan mendokumentasikan, bukan menyampaikan informasi. Sebenarnya dasar dari humas itu adalah public relation. Kalau public relation itu, lebih banyak ke manajemen, artinya bagaimana nanti kita berhubungan baik secara internal dan eksternal ke publiknya. Internal dan eksternal maksudnya adalah internal dan eksternal dalam sebuah organisasi atau institusi , hubungannya tetap kita jaga di dalamnya bagaimana issue -issue di dalam tetap senang, kemudian di luarnya dengan institusi atau organisasi yang lain. Kemudian ke publik artinya kalau di sampaikan ke publik, ini adalah lahan yang krisis. Jadi saya lebih setuju menggunakan kata public relation dari pada istilah humas. Karena di public relation itu lebih konkret, walapun sebenarnya kata public relation itu sama dengan istilah humas. Hanya berbeda sedikit saja antara public relation dengan humas. Karena kebiasaan nya di Indonesia yang membuatnya berbeda. Padahal secara di dunia sebenarnya keduanya sama saja antara public relation dengan humas” ujar Aidina Fitra.
Selanjutnya Aidina Fitra menyampaikan juga tentang perbedaan paradigma dulu dengan sekarang yang terkait dengan media dan pengelolaan persepsi publik.
“Dulu siapa yang menguasai media, menguasai informasi. Sekarang siapa yang mengelola persepsi, mengelola kepercayaan publik,” pungkas Aidina Fitra
Ia juga menjelaskan bahwa humas modern dituntut mampu bergerak cepat, adaptif, serta memiliki kemampuan mengelola narasi positif institusi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, strategi komunikasi yang tepat akan menjadi kekuatan penting dalam memperkuat reputasi dan eksistensi lembaga pendidikan di mata masyarakat.
Melalui Workshop Kehumasan ini, Tim Humas & Protokolan UIN Bukittinggi berharap seluruh peserta dapat meningkatkan kompetensi dalam pengelolaan media, penulisan berita, serta strategi komunikasi publik yang profesional guna mendukung penguatan branding positif UIN Bukittinggi di tingkat lokal maupun nasional. (NZ)
