Membasuh Trauma Anak-Anak Salareh Aia Agam

Bukittinggi (Humas) — Lumpur sisa banjir bandang (galodo) mungkin telah mengering dari dinding SD Negeri 05 Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Namun, di balik tatapan mata para siswa, sisa kengerian bencana itu belum benar-benar surut. Trauma mengendap di relung batin, membutuhkan penanganan yang presisi agar tak menjadi luka permanen.

Menyadari kerentanan tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi bersama Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar aksi kemanusiaan di Nagari Salareh Aia, Kamis (22/1/2026). Tim gabungan ini berupaya memulihkan kondisi psikologis anak-anak melalui pendekatan ganda yang menggabungkan terapi psikologi modern dan penguatan spiritual.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Bukittinggi, Dr. Muhiddinur Kamal, mengungkapkan bahwa pemulihan jiwa di tengah masyarakat yang religius memerlukan pendekatan yang komprehensif. “Kami menggabungkan metode klinis dengan pendekatan kalbu agar pemulihan berjalan lebih menyentuh akar masalah,” ujarnya.

Dok. Terapi Psikologi Tim Relawan UIN Bukittinggi pada Trauma Healing di Salareh Aia

Terapi Psikologi dan Penguatan Spiritual

Dalam kegiatan tersebut, tenaga pendidik dan kependidikan yang terdiri dari ahli psikolog Sri Hartati, M.Si., bersama dosen—termasuk Dr. Lindayarni,Dr. Hidayani Syam, Dr. Alfi Rahmi, Dr. Arjoni, Elviana, M.Pd., dan tenaga teknis Hasbi, S.Kom.,-mengajak anak-anak masuk ke dunia mereka melalui art therapy (terapi seni), play therapy (terapi bermain), dan storytelling. Lewat goresan krayon dan permainan kelompok, emosi negatif seperti ketakutan dan rasa tidak aman perlahan diurai. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa program studi Bimbingan Konseling UIN Bukittinggi.

Namun, tim menyadari bahwa bagi masyarakat Minangkabau yang kental dengan nilai agama, pemulihan jiwa tak lengkap tanpa sentuhan spiritual. Di sinilah instrumen tausyiah berperan sebagai penyejuk.

Melalui pesan-pesan yang disampaikan Irwandi Nashir dan Fajri Ahmad, para orangtua dan siswa diajak menemukan makna di balik cobaan. Tausyiah ini diposisikan sebagai “jangkar” untuk menenangkan badai kecemasan yang kerap muncul pascabencana.

Dok. Penguatan Spiritual kepada Warga Korban Galodo Salareh Aia oleh Tim Relawan UIN Bukittinggi

Luka yang Tak Kasatmata

Meski tawa sesekali pecah di tengah permainan, para pakar tetap memberikan catatan serius. Di sudut sekolah, beberapa anak masih tertangkap kamera sedang melamun dengan pandangan kosong. Mata yang berkaca-kaca menjadi isyarat bahwa “badai” di dalam kepala mereka belum sepenuhnya reda.

Dr. Lindayarni, anggota tim ahli, menyebut fenomena ini sebagai sinyal penting bahwa trauma bencana memiliki lapisan yang kompleks. Fakta adanya anak yang belum mampu mengekspresikan perasaan menunjukkan bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan hanya sekali.

“Pendampingan ini perlu dilakukan secara berkesinambungan. Penggalian emosi yang lebih mendalam masih sangat dibutuhkan agar anak-anak di Nagari Palembayan tidak tumbuh dalam bayang-bayang trauma,” tutur Lindayarni.

Upaya di SDN 05 Jorong Kayu Pasak ini barulah langkah awal. Sebab, membangun kembali sebuah wilayah pascabencana bukan sekadar mendirikan bangunan fisik yang kokoh, melainkan memastikan generasi masa depannya memiliki jiwa yang sehat dan tangguh.

 Di Salareh Aia, kolaborasi ilmu pengetahuan dan iman kini tengah bekerja, perlahan-lahan menyembuhkan luka yang tak kasatmata. (*Humas UIN Bukittinggi/YH)

*Kontributor : Irwandi Nashir

Aksesibilitas